Welcome to MyNice Welcome to MyNice Welcome to MyNice Welcome to MyNice Welcome to MyNice Welcome to MyNice Welcome to MyNice

Sabtu, 19 Mei 2012

KEBIJAKAN PEMERINTAH MENGENAI ASI EKSLUSIF


ASI EKSLUSIF
Dalam upaya meningkatkan pemberian ASI eksklusif, yang terutama ditingkatkan adalah “Menyusui ASI Eksklusif”. Menurut petunjuk Bina Gizi Masyarakat, pengertian ASI eksklusif adalah “hanya ASI sampai bayi berumur 4 bulan dan diberikan kolostrum” yang diberikan kepada anak < 4 bulan. Untuk mengetahui anak/bayi tersebut menyusui ASI eksklusif atau tidak, ditelusuri dari anak menyusu ASI/tidak menyusui. Dari anak yang menyusu, ditelusuri anak yang hanya diberi ASI saja dan diberi makan/minum, kemudian anak tersebut dalam 24 jam hanya diberi ASI.
Dari definisi ini, telah diperoleh gambaran bahwa bayi yang < 1 bulan, proporsi menyusu ASI ekslusif justru lebih rendah dari bayi umur 1 bulan. Proporsi ini terjadi di daerah perkotaan dan di pedesaan. Hal ini kemungkinan karena ibu-ibu dalam masa kini banyak melakukan kegiatan untuk memperoleh tambahan pendapatan keluarga. Hal ini didasarkan pada hasil analisis asosiasi bahwa proporsi pemberian ASI eksklusif mempunyai hubungan dengan kegiatan yang dilakukan oleh ibu.
Proporsi pemberian ASI eksklusif di perkotaan dan pedesaan untuk umur bayi < 1–3 bulan cenderung tidak jauh berbeda. Hal ini kemungkinan terjadi karena para ibu di desa dan di kota telah sama-sama terpapar oleh media, sehingga pengetahuan dan kepedulian mereka terhadap bayi untuk menyusui cukup besar.
Jumlah anak umur 0–4 tahun dalam keluarga tampaknya mendukung pemberian ASI eksklusif oleh para ibu. Hal ini didasarkan pada hasil uji regresi bahwa jumlah anak 1–2 dalam keluarga mempunyai pengaruh dibandingkan dengan keluarga yang tidak mempunyai 1–2 anak.
Berdasarkan umur, proporsi pemberian ASI eksklusif tampak cukup bervariasi dari umur < 1 bulan sampai umur 3 bulan. Hal ini yang menunjukkan bahwa bayi yang berumur 2 bulan mempunyai kemungkinan untuk diberi ASI eksklusif 4 kali dibandingkan dengan yang tidak berumur 2 bulan, tertinggi dibandingkan dengan kemungkinan pada umur 1 bulan dan 3 tiga bulan.
Sementara itu, proporsi pemberian ASI eksklusif berdasarkan kategori lokasi (di perkotaan, di pedesaan, di desa tertinggal, dan di desa tak tertinggal), tidak terjadi perbedaan yang cukup tajam. Hal ini kemungkinan terjadi karena pengaruh modernisasi di desa-desa sehingga para ibu kurang menyadari pentingnya pemberian ASI eksklusif. Di samping itu, telah terjadi peningkatan iklan susu buatan yang secara gencar memasarkan produk susunya sebagai pengganti ASI.
Dalam pemberian ASI ekslusif, walaupun ada kecenderungan bahwa yang pengeluaran rata-rata sebulannya tinggi, rata-rata pengeluaran untuk makan tinggi, dan penghasilan bersih dari pekerjaan utama tinggi, tampaknya tidak mempunyai pengaruh langsung pada kemungkinan pemberian ASI eksklusif. Hal ini terbukti dengan tidak adanya pengaruh yang bermakna pada menyusui ASI ekslusif dengan variabel pertolongan pertama/kedua waktu melahirkan, terpaparnya dari media radio, TV, serta membaca koran. Oleh karena itu, tampaknya masih diperlukan informasi dari sumber lain mengenai faktor-faktor yang menentukan ibu-ibu dalam menyusui ASI, khususnya ASI eksklusif.
Kebijakan-kebijakan Pemerintah RI sehubungan penggunaan ASI Eksklusif
1. Inpres No.14/1975 Menko Kesra selaku koordinator pelaksana menetapkan bahwa      salah satu program dalam usaha perbaikan gizi adalah peningkatan penggunaan ASI.
2. Permenkes No.240/1985 Melarang produsen susu formula untuk mencantumkan kalimat-kalimat promosi produknya yang memberikan kesan bahwa produk tersebut setara atau lebih baik mutunya daripada ASI.
3. Permenkes No.76/1975 Mengharuskan produsen susu kental manis (SKM) untuk  mencantumkan pada label produknya bahwa SKM tidak cocok untuk bayi, dengan warna tulisan merah dan cukup mencolok.
4. Melarang promosi susu formula yang dimaksudkan sebagai ASI di semua sarana pelayanan kesehatan.
5. Menganjurkan menyusui secara eksklusif sampai bayi berumur 4-6 bulan dan menganjurkan pemberian ASI  sampai  anak berusia 2 tahun.
6. Melaksanakan rawat gabung di tempat persalinan milik pemerintah maupun swasta.
7. Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam hal PP-ASI sehingga petugas tersebut terampil dalam melaksanakan penyuluhan  pada masyarakat luas.
8. Pencanangan Peningkatan Penggunaan ASI oleh Bapak Presiden secara nasional pada peringatan Hari Ibu ke-62 (22Desember1990).
9. Upaya penerapan 10 langkah untuk berhasilnya menyusui di semua rumah sakit, rumah bersalin dan puskesmas dengan tempat tidur.
Kesimpulan
  1. Pola pemberian ASI eksklusif pada bayi umur < 1–2 bulan relatif cukup tinggi, sedangkan yang berumur 3 bulan relatif cukup rendah, baik secara keseluruhan ataupun yang dibedakan menurut perkotaan dan pedesaan.
  2. Proporsi pemberian ASI ekslusif pada bayi berumur 2 bulan relatif cukup besar, baik di perkotaan maupun di pedesaan, dan mulai menurun pada umur tiga bulan.
  3. Proporsi bayi yang menyusu ASI eksklusif mulai umur < 1 bulan sampai 2 bulan relatif cukup besar, baik secara keseluruhan maupun berdasarkan pedesaan dan perkotaan, serta rendah proporsinya pada umur 3 bulan. Proporsi pemberian ASI ekslusif pada bayi umur 3 bulan di perkotaan lebih rendah dibandingkan di pedesaan.
  4. Berdasarkan hal ini adanya hubungan antara sosial ekonomi, semuanya menggambarkan proporsi pemberian ASI eksklusif pada semua tingkatan yang relatif cukup besar dibandingkan dengan yang tidak eksklusif.
  5. Faktor sosial ekonomi, demografi, pelayanan kesehatan, dan paparan media, yaitu umur bayi, tingkat pendidikan yang ditamatkan, dan jumlah anak 0–4 tahun dalam keluarga.
Saran
  1. Diperlukan penyuluhan yang intensif melalui komunikasi langsung oleh petugas-petugas kesehatan di desa: bidan desa, kader-kader Posyandu, dan dalam pertemuan instrumen kelompok ibu-ibu tentang ASI eksklusif.
  2. Diperlukan penyuluhan yang rinci tentang cara-cara menambah makanan tambahan pada ibu-ibu untuk menjamin kecukupan gizi pada waktu menyusui.
  3. Berhubung rendahnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi berumur kurang 1 bulan dibandingkan yang berumur 1 bulan, diperlukan informasi lebih lanjut mengenai penyebab terjadinya hal ini.

PENTINGNYA ASI EKSKLUSIF


PENTINGNYA ASI EKSKLUSIF

I.          PENGERTIAN ASI EKSKLUSIF
ASI eksklusif adalah air susu ibu yang diberikan kepada bayi sebagai bahan makanan pokok. Sampai umur 6 bulan bayi hanya diberikan ASI saja tanpa makanan tambahan lainnya.

II.       KEUNGGULAN ASI
1.         Mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi
2.         ASI mengandung zat penolak (antibody) yang dapat melindung bayi dari berbagai penyakit infeksi
3.         Aman dan dapat diberikan langsung
4.         Tidak menimbulkan alergi bagi bayi
5.         Sebagai perantara hubungan kasih sayang antara ibu dan bayi
6.         Membantu pertumbuhan gizi lebih baik
7.         Kemungkinan tersedak kecil karena bentuk payudara yang sedemikian rupa
8.         Ekonomis, praktis dan tersedia setiap saat

III.    HAL HAL YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI ASI
           A.          Makanan Ibu
Apabila ibu makan secara teratur, cukup mengandung gizi yang dibutuhkan akan membanu  terbentuknya ASI. Makanan ibu harus memenuhi jamlah kalori, protein, lemak, vitamin, serta mineral, selain itu minum lebih banyak dari biasanya 8-12 gelas sehari. Bahan makanan yang dibatasi untuk ibu menyusui adalah yang merangsang seperti cabe, merica, kopi, alkohol. Bahan makanan yang membuat kembung seperti ubi, kol, sawi, dan bawang serta bahan makanan yang banyak mengandung gula.
            B.          Ketenangan jiwa dan pikiran
Faktor kejiwaan akan mempengaruhi produksi ASI misalnya perasaan yang tertekan, sedih, kurang percaya diri, dan berbagai ketegangan jiwa. Volume ASI akan menurun bahkan tidak ada sama sekali.
            C.          Penggunaan alat konrasepsi
Penurunan produksi ASI biasanya terjadi pada ibu yang menggunakan kontrasepsi Pil
           D.          Perawatan payudara
Perawatan payudara harus dimulai sejak masa kehamilan sehingga akan memperbanyak dan memperlancar produksi ASI

IV.    ALASAN PEMBERIAN ASI SEGERA SETELAH BAYI LAHIR
1.         Memberikan ketanangan dan kepuasan pada ibu
2.         Mempercepat pulihnya kembali alat-alat kandungan kebentuk semula setelah persalinan
3.         Hisapan bayi saat menyusui akan memperlancar produksi ASI
4.         Bayi jarang terkena penyakit
5.         Gizi bayi pada tahun pertama jauh lebih baik dibandingkan bayi yang tidak memperoleh ASI

V.       CARA MENGETAHUI APABILA BAYI CUKUP MEMPEROLEH ASI
Ibu yang memberikan ASI pada bayinya kadang-kadang tidak mengetahui apakah ASI yang diberikannya cukup atau tidak. Cara untuk mengetahuinya adalah melakukan penimbangan pada bayi setiap bulan. Cara yang lain adalah dengan mengamati tanda-tanda sebagai berikut :
1.         Bayi tampak puas dan tertidur lelap setelah menyusu
2.         Ibu merasakan payudaranya ada perubahan, tegang dan merasakan aliran deras saat menyusui
3.         Setelah menyusui, payudara ibu akan kosong.

MANFAAT BUDI PEKERTI


MANFAAT BUDI PEKERTI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Budi Pekerti adalah tingkah laku, akhlak, peringai dan watak.
Sebenarnya Budi Pekerti adalah nilai-nilai yang terkandung dalam diri setiap manusia, baik itu sifat yang baik maupun sifat yang buruk. Dampak dari sifat buruk dan baik yang dimiliki seseorang pasti mempunyai dampak yang jelas pada pribadi orang tersebut. Dalam hal ini, akan di bahas beberapa manfaat budi pekerti dengan sifat yang baik.
Manfaat budi pekerti dapat dirasakan disemua aspek kehidupan manusia. Jika sifat yang kita tunjukkan baik maka orang lain juga akan menilai kita baik. Hal kecil dalam budi pekerti yang baik dapat kita tunjukkan adalah dengan membuang sampah pada tempatnya, memberi salam dan tersenyum ketika melewati orang yang kita kenal atau dengan orang yang kita tidak kenal sekalipun. Efek dari hal-hal kecil yang kita lakukan sangat memberi dampak positif.
Aspek-aspek kehidupan antara lain :
1.     Dalam keluarga
Keluarga merupakan wadah awal pembentukan budi pekerti dalam diri seorang anak. Banyak keluarga yang terpecah belah karena kurang adanya budi pekerti dalam keluarga tersebut. Dengan adanya budi pekerti yang baik, sifat menghargai, menghormati dan mengasihi antara anggota keluarga akan terbentuk. Nilai kepedulian yang sangat diperlukan juga akan terbentuk. Sehingga jika nilai budi pekerti ditanamkan didalam keluarga sejak dini, maka generasai Indonesia masa depan akan memiliki budi pekerti yang tinggi yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa.

2.     Dalam masyarakat
Masyarakat yang berahlak adalah masyarakat yang memiliki budi pekerti yang baik. Misalnya kepala desa yang bersikap jujur dan adil kepada masyarakat. Masyarakat akan lebih bersatu, suka bergotong royong, membantu sesama, bersikap dan berpakaian yang sopan dan bertanggung jawab terhadap peran masing-masing orang dalam masyarakat.

3.     Dalam Berbangsa dan Bernegara
Dengan adanya budi pekerti dalam pribadi setiap manusia di Bumi Pertiwi ini akan lebih membangkitkan rasa kesatuan dan persatuan di Indonesia. Dalam hal ini khususnya kita sebagai umat beragama sangat memerlukan budi pekerti sehingga sikap menghargai dan menghormati dapat kita tunjukkan kepada sesame kita, dan tidak terjadi perpecahan yang mengatasnamakan agama.


Nilai-nilai budi pekerti antara lain meliputi : adil, amanah, antisipasif, baik sangka, bekerja keras, beradab, berani berbuat benar, berpikir jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bijaksana, cerdas, cermat, cinta ilmu, dedikasi, demokratis, dinamis, disiplin, efesien, efektif, empati, gigih, giat, hemat, hormat, hati-hati, harmonis, iman, ikhlas, istighfar, inisiatif, inovatif, jujur, kasih sayang, keras kemauan, ksatria, komitmen, konstruktif, konsisten, kooperatif, kreatif, lapang dada, lemah lembut, lugas, mandiri, manusiawi, mawas diri, menghargai, menjaga, nalar(logis), optimis, patriotik, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, percaya diri, produktif, proaktif rajin, ramah, rasa indah, rasa malu, rasional, rela berkorban, rendah hati, sabar, saleh, setia, sopan santun, sportif, susila, syukur, takwa, taat, teguh, tangguh, tanggungjawab, tawakal, tegar, tegas, tekun, tenggang rasa, terbuka, tertib, terampil, tekun, tobat, ulet, unggul, wawasan luas, wirausaha, yakin.
Nilai-nilai budi pekerti di atas mudah untuk diucapkan tapi sulit diamalkan. apabila nilai-nilai budi pekerti tersebut di atas ingin nampak dalam kepribadian sehari-hari memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk merealisasikannya memerlukan manajemen dalam arti memanfaatkan dan memberdayakan segala sumber daya manusia dan benda secara efektif, efesien, kontinyu dan konsisten.


By : Viorensha Flody